Pergerakan harga pangan di Jawa Barat hari ini menunjukkan pola yang cukup kontras. Saat sebagian komoditas melonjak, beberapa bahan pokok justru mengalami penurunan membuat situasi pasar terasa tidak sepenuhnya stabil.

Di pasar tradisional Jawa Barat, perubahan harga ini mulai terasa langsung oleh masyarakat. Terutama pada komoditas cabai yang kembali bergerak naik dan berpotensi memengaruhi pengeluaran harian.

Data Harga Pangan PIHPSN Jawa Barat

Harga cabai menjadi perhatian utama dalam update 22 April 2026. Cabai merah keriting naik 11,19% atau Rp 4.950 menjadi Rp 49.200 per kg. Sementara cabai merah besar juga meningkat 9,32% menjadi Rp 47.500 per kg.

Tak hanya itu, cabai rawit hijau ikut terdongkrak 8,25% ke level Rp 51.150 per kg. Kenaikan ini menunjukkan tekanan harga masih terjadi di kelompok cabai yang umum digunakan dalam kebutuhan harian.

Namun, berbeda dari tren tersebut, cabai rawit merah justru turun cukup signifikan sebesar 7,66% menjadi Rp 70.550 per kg. Meski turun, harganya tetap menjadi salah satu yang tertinggi di pasar.

Berbeda dengan cabai, harga bawang di Jawa Barat justru mengalami penurunan. Bawang merah turun 1,4% menjadi Rp 42.350 per kg, sedangkan bawang putih turun tipis 0,77% ke Rp 38.700 per kg.

Untuk komoditas beras, situasinya relatif stabil. Hampir seluruh kategori, mulai dari beras kualitas bawah hingga premium, tercatat tidak mengalami perubahan harga. Ini menjadi sinyal bahwa pasokan beras masih dalam kondisi aman.

Stabilnya harga beras memberikan sedikit kepastian bagi konsumen, terutama di tengah fluktuasi komoditas lain.

Belanja Harian Tetap Tertekan

Kenaikan harga cabai berpotensi langsung dirasakan oleh rumah tangga. Sebagai bahan utama dalam banyak masakan, cabai sulit untuk digantikan, sehingga kenaikannya akan berdampak pada total belanja harian.

Meski beberapa komoditas seperti bawang dan minyak goreng mengalami penurunan, efeknya belum cukup kuat untuk menyeimbangkan lonjakan harga cabai.

Di sisi lain, harga telur ayam ras segar justru turun tipis 0,52% menjadi Rp 28.650 per kg. Daging ayam juga turun 1,61%, yang sedikit membantu mengurangi tekanan pengeluaran.

Berdasarkan data yang dilansir dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional BI, pergerakan harga di Jawa Barat menunjukkan tren campuran.

Beberapa komoditas lain seperti minyak goreng curah turun 1,29% menjadi Rp 22.900 per kg. Sementara minyak goreng kemasan mengalami kenaikan sangat tipis sebesar 0,22%.

Harga gula pasir, baik premium maupun lokal, tercatat stabil tanpa perubahan. Daging sapi kualitas 1 turun tipis 0,35%, sedangkan kualitas 2 tidak mengalami perubahan harga.

Kondisi ini mencerminkan bahwa pasar masih bergerak dinamis, dengan tekanan utama saat ini berada pada komoditas cabai.

Dengan kondisi harga yang fluktuatif, masyarakat perlu lebih cermat dalam mengatur belanja. Mengurangi konsumsi komoditas yang sedang naik atau mencari alternatif bisa menjadi langkah sementara.

Selain itu, memantau harga secara rutin penting dilakukan agar bisa menyesuaikan pengeluaran dengan kondisi pasar.

Baca Juga: Menko Pangan Zulhas Pastikan Stok Pangan Aman di Tengah Konflik Timur Tengah

Jika tren kenaikan cabai terus berlanjut, bukan tidak mungkin akan berdampak lebih luas, termasuk pada harga makanan jadi di tingkat konsumen.

Harga pangan di Jawa Barat per 22 April 2026 menunjukkan dinamika yang cukup tajam, terutama pada cabai yang kembali naik signifikan. Di tengah kondisi tersebut, stabilnya harga beras dan turunnya beberapa komoditas menjadi penyeimbang sementara.

Pergerakan ini masih bisa berubah dalam waktu dekat, sehingga penting untuk terus mengikuti perkembangan harga di pasar tradisional.