Kurikulum Dinilai Terlalu Berat, Dedi Mulyadi Usul Perubahan
Dedi Mulyadi kritik kurikulum terlalu akademis dan berat, sebut siswa mudah mengantuk dan pusing saat belajar di sekolah.
Sistem pendidikan kembali jadi sorotan. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, secara terbuka mengkritik kurikulum yang dinilai terlalu berat dan membuat siswa kesulitan mengikuti pelajaran.
Pernyataan ini disampaikan saat peresmian SMAN 3 Jonggol pada Kamis, 16 April 2026. Dalam kesempatan itu, ia menyoroti langsung bagaimana materi pembelajaran selama ini diterapkan di sekolah.
Dedi Mulyadi Kritik Kurikulum yang Terlalu Akademis
Dalam kunjungannya, Dedi Mulyadi menyebut kurikulum saat ini terlalu fokus pada teori. Menurutnya, siswa dibebani materi hingga ratusan halaman tanpa diimbangi praktik nyata.
Ia menilai kondisi ini membuat siswa mudah mengantuk dan pusing saat belajar. Pernyataan tersebut, dilansir dari tayangan YouTube-nya pada Minggu (19/4/2026), menjadi salah satu sorotan utama dalam kunjungan tersebut.
Dedi menegaskan bahwa pembelajaran tidak seharusnya hanya berisi hafalan teori, tetapi perlu pendekatan yang lebih aplikatif.
Dorongan ke Pembelajaran Sains Terapan
Sebagai solusi, Dedi Mulyadi mendorong perubahan ke arah biologi, fisika, dan matematika terapan.
Dalam interaksinya dengan siswa kelas 10 dan para guru, ia menjelaskan bahwa ilmu sains pada dasarnya mempelajari fenomena alam dan hubungan sebab-akibat.
Ia juga menantang siswa dan guru untuk langsung mempraktikkan teori tersebut, terutama dalam bidang energi terbarukan.
Beberapa contoh yang disampaikan antara lain:
- Pengolahan kelapa sawit menjadi biosolar (B50)
- Pemanfaatan jagung, aren, dan jerami sebagai bahan bakar
- Pembuatan mobil listrik tenaga surya
- Pemanfaatan panel surya untuk kebutuhan listrik sekolah
Baca Juga : Proyek Gedung Sate Rp15,8 M: Halaman Dibongkar, Ini Tujuannya
Pemanfaatan Sampah hingga Energi Alternatif
Selain energi, Dedi Mulyadi juga menyoroti pengolahan sampah di lingkungan sekolah.
Ia menyebut sampah plastik bisa diolah menjadi bahan bakar karena mengandung hidrogen. Sementara itu, sampah organik dapat dimanfaatkan menjadi pupuk atau maggot untuk mendukung lingkungan sekolah.
Gagasan ini disampaikan sebagai bagian dari praktik nyata pembelajaran yang menurutnya lebih efektif dibanding hanya teori di kelas.
Sorotan Kondisi Guru dan Infrastruktur
Dalam kunjungan tersebut, Dedi Mulyadi juga menyinggung kondisi guru. Ia menyoroti gaji guru P3K yang dinilai masih kecil dan dihitung berdasarkan jam mengajar.
Selain itu, ia menanggapi kondisi jalan menuju sekolah yang rusak. Ia menyatakan akan melakukan perbaikan berupa pengaspalan (hotmix) pada minggu berikutnya.
Kunjungan ini juga diwarnai interaksi langsung dengan guru terkait kondisi ekonomi, termasuk pendapatan keluarga dan pinjaman bank.
Harapan untuk Pendidikan Lebih Maju
Peresmian SMAN 3 Jonggol disambut antusias masyarakat, mulai dari siswa hingga orang tua. Kehadiran sekolah ini diharapkan dapat membuka peluang pendidikan yang lebih baik di wilayah Jonggol, Kabupaten Bogor.
Dedi Mulyadi berharap perubahan pendekatan pembelajaran dapat mendorong kemajuan pendidikan sekaligus memberi pengalaman belajar yang lebih nyata bagi siswa.
Baca Juga: Instruksi Dedi Mulyadi: Wajibkan 7,5% APBD untuk Infrastruktur
Kritik terhadap kurikulum menjadi salah satu poin penting dalam kunjungan ini. Fokus pada pembelajaran terapan disebut sebagai langkah yang diharapkan bisa mengubah pengalaman belajar siswa ke depan.
0 Komentar