Ratusan pengemudi ojol terlibat bertrok fisik dengan mahasiswa di Makassar. Dilansir dari Inilah.com, Insiden ini terjadi di Jalan Urip Sumoharjo pada Jumat malam (24/4/2026), setelah situasi yang awalnya berupa aksi blokade berubah menjadi konflik terbuka.

Peristiwa tersebut bermula dari aksi mahasiswa yang memblokade jalan sejak sore hari. Namun, siapa sangka, ketegangan yang awalnya hanya berupa kemacetan panjang akhirnya berujung bentrokan fisik antara dua kelompok.

Blokade Jalan Picu Ketegangan di Urip Sumoharjo

Bentrokan antara pengemudi ojol vs mahasiswa di Makassar tidak terjadi begitu saja. Aksi memblokade jalan yang dilakukan mahasiswa dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar menjadi titik awal meningkatnya tensi tinggi di lapangan.

Aksi mahasiswa tersebut dilakukan dalam rangka memperingati tiga dekade April Makassar Berdarah (Amarah). Jalan Urip Sumoharjo pun ditutup sejak sore hingga malam hari, menyebabkan kemacetan panjang yang tidak terhindarkan.

Baca juga: Banyak Dibuka! Ini Beasiswa Mahasiswa April–Mei 2026 yang Wajib Diketahui

Pengendara, terutama roda dua, mulai mencari jalur alternatif untuk menghindari kepadatan. Sementara kendaraan roda empat tidak memiliki banyak pilihan selain menunggu hingga jalan dibuka kembali.

Kondisi ini menunjukkan bagaimana aksi massa di ruang publik bisa berdampak langsung pada mobilitas masyarakat luas. Ketika akses utama terganggu, efeknya terasa cepat dan meluas.

Ojol Terobos Blokade

Keributan mulai pecah saat seorang pengemudi ojek online mencoba menerobos blokade jalan. Keputusan ini memicu adu mulut antara pengemudi tersebut dengan mahasiswa yang berjaga di lokasi.

Situasi kemudian memanas setelah pengemudi ojol itu diduga mengalami pemukulan. Informasi tersebut dengan cepat menyebar di kalangan sesama pengemudi ojol.

Tak butuh waktu lama, ratusan pengemudi ojol datang ke lokasi. Mereka kemudian melakukan serangan terhadap mahasiswa, yang akhirnya memicu bentrokan terbuka.

Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana informasi yang menyebar cepat terutama di komunitas tertentu—bisa mempercepat eskalasi konflik dalam waktu singkat.

Bentrok Meluas, Mahasiswa Mundur ke Kampus

Aksi saling serang antara kedua kubu pun tidak terhindarkan. Bentrokan berlangsung cukup intens hingga akhirnya massa ojol berhasil memukul mundur mahasiswa.

Banyak mahasiswa dilaporkan melarikan diri ke dalam area kampus UMI Makassar untuk menghindari situasi yang semakin tidak terkendali.

Selain itu, sejumlah fasilitas kampus juga mengalami kerusakan akibat bentrokan tersebut. Hal ini menandakan bahwa konflik yang awalnya terjadi di jalan raya merembet hingga ke area institusi pendidikan.

Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa bentrokan di ruang publik sering kali sulit dibatasi, terutama ketika jumlah massa semakin besar.

Situasi Saat Ini Sudah Kondusif

Kapolrestabes Makassar Kombes Pol. Arya Perdana membenarkan bahwa bentrokan dipicu oleh gesekan antara pengemudi ojol dan mahasiswa.

Ia menjelaskan bahwa insiden bermula saat seorang pengemudi ojol yang membawa penumpang mencoba melewati blokade jalan yang berlangsung cukup lama.

"Karena terlalu lama jalan ditutup sehingga ada Ojol yang bersinggungan dengan mahasiswa. Sehingga ada bentrok sedikit dengan Ojol," jelas Arya kepada wartawan.

Meski sempat memanas, situasi kini dilaporkan telah kondusif. Para pengemudi ojol mulai meninggalkan lokasi, sementara mahasiswa diamankan ke dalam kampus.

"Ini rekan-rekan Ojol sudah keluar dan kami masih mengamankan adik-adik mahasiswa ke dalam. Situasi sudah kondusif, jalan sudah terbuka, sudah lancar," lanjutnya.

Baca Juga: Tren Vell TikTok Blunder, Link Video Viral Berpotensi Berbahaya

Bentrokan ojol vs mahasiswa di Makassar menjadi pengingat bahwa ruang publik yang terganggu dapat memicu konflik yang lebih besar. Ketika kepentingan berbeda bertemu antara aksi demonstrasi dan kebutuhan mobilitas gesekan sulit dihindari.

Artinya, pengelolaan aksi di ruang publik menjadi faktor penting untuk mencegah konflik serupa. Koordinasi dan komunikasi yang baik bisa menjadi kunci agar situasi tidak berkembang menjadi bentrokan.

Selain itu, kecepatan penyebaran informasi di kalangan komunitas juga memiliki peran besar dalam mempercepat eskalasi. Dalam kasus ini, kabar pemukulan menjadi pemicu mobilisasi massa dalam waktu singkat.