Isu kebersihan Kota Bandung kini jadi sorotan tajam. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan secara terbuka mengakui bahwa kinerja 1.500 penyapu jalan belum memberikan dampak signifikan terhadap kondisi kota. Pengakuan ini sekaligus menjawab kritik dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang sebelumnya mempertanyakan efektivitas program tersebut.

Di tengah harapan publik terhadap kota yang lebih bersih, fakta di lapangan justru menunjukkan adanya celah dalam sistem kerja dan pengawasan.

Kritik Dedi Mulyadi Picu Evaluasi Menyeluruh

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti jumlah besar petugas kebersihan yang dinilai tidak terlihat hasil kerjanya. Dengan jumlah mencapai 1.500 orang, seharusnya perubahan kondisi kota bisa dirasakan secara nyata.

Namun, menurut Dedi, kondisi tersebut tidak tercermin di lapangan. Ia bahkan menduga ada petugas yang hanya tercatat secara administratif tanpa kontribusi kerja yang jelas.

Pernyataan ini kemudian memicu evaluasi dari Pemerintah Kota Bandung terhadap sistem pengelolaan kebersihan yang berjalan.

Farhan Jawab Kritikan KDM

Menanggapi kritik tersebut, Farhan mengaku telah berdiskusi langsung dengan Dedi Mulyadi untuk mencari solusi berbasis data. Ia kemudian melakukan evaluasi lapangan melalui program percobaan “Anu Sasapu Bandung”.

Program ini melibatkan camat dan lurah yang turun langsung di 46 titik. Dari hasil pemantauan tersebut, ditemukan bahwa tingkat disiplin petugas masih rendah.

Farhan mengungkapkan, banyak petugas yang tidak datang sesuai jadwal. Bahkan saat diminta mulai bekerja pukul 04.00 pagi, masih ada yang terlambat, sehingga target kebersihan pukul 06.00 belum tercapai.

Temuan ini memperkuat kesimpulan bahwa masalah utama bukan hanya jumlah petugas, tetapi juga efektivitas kerja di lapangan.

Baca Juga: Proyek Gedung Sate Rp15,8 M: Halaman Dibongkar, Ini Tujuannya

Sistem Pengawasan Masih Manual

Selain disiplin, Farhan juga menyoroti kelemahan pada sistem pengawasan. Selama ini, pendataan dan kontrol terhadap petugas penyapu jalan masih dilakukan secara manual.

Kondisi ini membuat pengawasan menjadi tidak optimal dan sulit memastikan apakah pekerjaan benar-benar dilakukan sesuai standar.

Minimnya sistem digital juga menyulitkan pemerintah dalam memetakan kinerja dan distribusi tugas secara akurat.

Tambahan Petugas dan Sistem Digital

Untuk mengatasi masalah tersebut, Pemkot Bandung bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan melakukan sejumlah langkah perbaikan.

Salah satunya adalah penambahan petugas kebersihan yang akan dibagi ke dalam tiga shift kerja. Dengan pola ini, diharapkan aktivitas pembersihan bisa lebih merata sepanjang hari.

Selain itu, sistem pengawasan akan beralih ke platform digital. Setiap petugas nantinya akan dilacak melalui aplikasi untuk memastikan kehadiran dan kinerja mereka di lapangan.

Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan transparansi sekaligus akuntabilitas dalam pengelolaan kebersihan kota.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga akan turun langsung membantu penanganan kebersihan di Kota Bandung. Sebanyak 100 petugas tambahan disiapkan untuk memperkuat tim yang sudah ada.

Tidak hanya itu, pengelolaan kebersihan di sejumlah ruas jalan, termasuk jalan provinsi dan sebagian jalan kota, akan diambil alih oleh pemerintah provinsi.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya percepatan perbaikan kondisi kebersihan di Bandung.

Momentum Perbaikan Sistem Kebersihan Kota

Dengan kombinasi evaluasi, penambahan tenaga, dan penerapan sistem digital, pemerintah menargetkan perubahan signifikan dalam waktu dekat.

Dedi Mulyadi bahkan optimistis kondisi kebersihan Kota Bandung bisa membaik dalam waktu sekitar satu bulan.

Namun, keberhasilan target ini tetap bergantung pada konsistensi pelaksanaan di lapangan, terutama dalam hal disiplin dan pengawasan.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa jumlah sumber daya tidak selalu berbanding lurus dengan hasil jika tidak didukung sistem yang tepat.

Evaluasi yang dilakukan saat ini bisa menjadi titik awal pembenahan menyeluruh dalam pengelolaan kebersihan kota.

Dengan sistem yang lebih terstruktur dan berbasis teknologi, harapannya Kota Bandung tidak hanya bersih secara visual, tetapi juga memiliki manajemen yang lebih efektif dan berkelanjutan.