Pada perdagangan akhir pekan kemarin Harga emas dunia sempat bangkit. Tetapi di balik kenaikan tipis itu, pasar justru menyimpan sinyal yang lebih dalam arah berikutnya masih penuh tanda tanya.

Prediksi harga emas pekan depan kini jadi sorotan setelah logam mulia ini sempat turun dan menyentuh level terendah dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan harian belum cukup kuat untuk mengubah gambaran besarnya.

Pada Jumat (24/4/2026), harga emas dunia di pasar spot ditutup di US$ 4.709,27 per troy ons. Posisi ini naik 0,24% dibandingkan hari sebelumnya.

Namun jika ditarik dalam sepekan, emas justru terkoreksi 2,57%. Ini menegaskan bahwa tekanan masih dominan, meski ada pantulan jangka pendek.

Penurunan harga ini melanjutkan tren sebelumnya. Baca juga: Harga Emas Dunia di Level Terendah, Dolar AS & Iran Picu Tekanan Pasar sebagai gambaran pergerakan yang membentuk kondisi saat ini.

Konflik Iran Masih Jadi Penentu Utama

Pergerakan harga emas dunia belum bisa dilepaskan dari situasi geopolitik, terutama konflik di Timur Tengah.

Perang di Iran yang berlangsung sejak akhir Februari masih belum menunjukkan tanda akan mereda. Upaya diplomasi memang mulai terlihat, namun hasilnya belum konkret.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan akan mengirim utusan khusus, Steve Witkoff dan Kushner, ke Pakistan untuk bertemu dengan pihak Iran. Di sisi lain, respons dari Teheran masih terkesan dingin.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga dijadwalkan berkunjung ke Pakistan. Namun kunjungan tersebut disebut bukan untuk negosiasi dengan pihak Amerika Serikat.

Ini menunjukkan bahwa jalur komunikasi belum sepenuhnya terbuka. Artinya, ketidakpastian masih tinggi dan ini biasanya menjadi bahan bakar bagi pergerakan emas.

Tekanan dari Energi dan Suku Bunga

Di saat yang sama, harga energi ikut naik. Minyak jenis brent tercatat di US$ 105,33 per barel, naik 0,25% dan menjadi yang tertinggi sejak 7 April.

Kondisi ini penting, karena kenaikan harga energi bisa memicu inflasi global. Jika inflasi tetap tinggi, bank sentral akan kesulitan menurunkan suku bunga. Ini menjadi tekanan tersendiri bagi emas.

Emas adalah aset non-yielding. Saat suku bunga tinggi, investor cenderung beralih ke instrumen yang memberikan imbal hasil.

Ini menjelaskan kenapa emas tidak langsung melonjak meski situasi global sedang tidak stabil.

Analisis Teknikal Harga Emas Pekan Depan

Lalu bagaimana prediksi harga emas pekan depan?

Secara teknikal, emas masih berada di zona bullish, meski tipis. Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di level 55 di atas 50, namun belum menunjukkan kekuatan penuh.

Sementara itu, Stochastic RSI berada di level 15. Ini masuk kategori jenuh jual (oversold), yang sering menjadi sinyal potensi rebound. Artinya, ada peluang kenaikan dalam jangka pendek.

Target resistensi terdekat berada di US$ 4.749 per troy ons. Jika berhasil ditembus, harga bisa mengarah ke US$ 4.788, bahkan berpotensi menguji US$ 4.852.

Dalam skenario optimistis, emas bisa bergerak menuju US$ 5.199 per troy ons. Namun risiko penurunan tetap ada.

Jika tekanan berlanjut, support terdekat berada di US$ 4.694. Penurunan lebih lanjut bisa membawa harga ke kisaran US$ 4.686 hingga US$ 4.542. Dalam kondisi terburuk, emas berpotensi turun hingga US$ 4.441 per troy ons.

Arah Pekan Depan: Naik atau Lanjut Turun?

Prediksi harga emas pekan depan pada akhirnya bergantung pada satu hal utama: sentimen global.

Jika ketegangan geopolitik meningkat, emas bisa kembali menguat sebagai aset safe haven. Namun jika tekanan suku bunga tetap tinggi, kenaikan bisa tertahan. Ini menunjukkan bahwa pasar masih berada di fase krusial.

Pergerakan saat ini bukan sekadar naik atau turun, tapi lebih ke arah konsolidasi sambil menunggu katalis besar berikutnya.

Dilansir dari bloombergtechnoz.com, kombinasi antara konflik Iran, harga energi, dan kebijakan moneter akan menjadi faktor penentu utama arah emas dalam waktu dekat.