Kayu Banjir Guci Jadi Sumber Penghasilan Warga Pantai Larangan
Kayu gelondongan akibat banjir bandang Guci memenuhi Pantai Larangan Tegal dan dimanfaatkan warga sebagai sumber penghasilan di tengah musim paceklik.
Pantai Larangan di Kabupaten Tegal mendadak dipenuhi kayu gelondongan dalam jumlah besar setelah banjir bandang melanda kawasan Guci. Sejak akhir pekan lalu, material kayu yang terdampar di sepanjang pesisir dimanfaatkan warga sebagai sumber penghasilan sementara, terutama bagi nelayan yang tengah menghadapi musim paceklik.
Direktur Utama BUMDes Munjungagung, Warnadi, menjelaskan kayu mulai terlihat menumpuk sejak Sabtu (24/1/2026). Fenomena ini disebut jauh lebih besar dibanding kejadian serupa pada musim hujan tahun-tahun sebelumnya, baik dari sisi jumlah maupun sebaran lokasi.
Kayu Gelondongan Menyebar Hingga Kilometeran
Menurut Warnadi, tumpukan kayu membentang dari wilayah pesisir Desa Sidaharja hingga Desa Munjungagung, bahkan diperkirakan mencapai Kelurahan Dampyak. Total sebarannya mencapai sekitar 10 kilometer garis pantai. Jika dihitung secara kasar, volumenya bisa mencapai ratusan meter kubik.
Baca Juga: Longsor berulang di Desa Cipanas Cirebon, nyaris memutus
Jenis kayu yang mendominasi antara lain sengon dan pinus. Sebagian batang masih utuh, sementara lainnya terlihat sudah terpotong rapi, menyerupai bekas gergaji mesin maupun alat manual. Kesamaan waktu kejadian dengan banjir bandang di kawasan Guci memperkuat dugaan bahwa kayu tersebut terbawa arus dari wilayah pegunungan Gunung Slamet.
Pantai Larangan sendiri saat ini dikelola oleh BUMDes Munjungagung. Di tengah situasi bencana yang terjadi di hulu, kawasan wisata pesisir tersebut justru menjadi lokasi berkumpulnya material bernilai ekonomi bagi warga setempat.
Nelayan Manfaatkan Kayu Saat Musim Paceklik
Mayoritas warga Munjungagung berprofesi sebagai nelayan. Saat gelombang laut tinggi dan hasil tangkapan menurun, aktivitas melaut terpaksa dihentikan. Kondisi itu membuat keberadaan kayu gelondongan menjadi alternatif penghidupan sementara.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Ingatkan Bahaya Alih Fungsi Lahan
Setiap hari, warga menyusuri pantai untuk menarik, memotong, dan mengumpulkan kayu. Hasilnya dijual kepada tengkulak untuk kemudian dimanfaatkan sebagai bahan bakar industri batu bata atau diolah menjadi arang. Harga jual di tingkat warga berkisar Rp150 ribu per mobil pikap, sementara tengkulak menjual kembali ke pengusaha batu bata hingga Rp400 ribu per mobil.
Ketua RW 02 Desa Munjungagung, Bambang Supeno, menyebut baru kali ini Pantai Larangan didatangi kayu berukuran besar dalam jumlah masif. Sebelumnya, material yang terdampar umumnya hanya sampah plastik atau ranting kecil.
Selain kayu, warga juga menemukan pipa paralon hitam berukuran panjang yang ikut terdampar di pesisir. Pipa tersebut diduga berasal dari kawasan perhotelan di Guci dan hanyut terbawa banjir. Barang itu dikumpulkan dan dijual ke pengepul rongsok dengan harga sekitar Rp250 ribu per kuintal. Beberapa warga mengaku mampu mengumpulkan hingga dua kuintal dalam sekali temuan.
Penanganan Bertahap dan Rencana Pembersihan
BUMDes Munjungagung memilih memberi ruang bagi warga untuk memanfaatkan kayu terlebih dahulu. Pembersihan pantai secara menyeluruh direncanakan dilakukan pekan depan dengan melibatkan unsur TNI, Polri, relawan, dan masyarakat setempat.
Fenomena lain yang sempat mengundang perhatian adalah ditemukannya ikan nila di sepanjang pantai. Ikan air tawar tersebut terdampar di pasir, sebagian masih segar meski sudah mati, sebagian lainnya dalam kondisi lemah.
Berita Rekomendasi: Zulkifli Hasan Tinjau Fasilitas PGN Saka di Gresik
Kejadian di Pantai Larangan menunjukkan bagaimana material sisa bencana di wilayah pegunungan dapat berdampak langsung ke kawasan pesisir. Di tengah kerusakan yang terjadi di hulu, warga pantai memanfaatkan apa yang terbawa arus sebagai penopang ekonomi sementara sambil menunggu kondisi laut kembali normal.
0 Komentar