Ermanto Usman (65), pensiunan Jakarta International Container Terminal (JICT), ditemukan meninggal dunia di rumahnya di kawasan Jatibening, Pondok Gede, Kota Bekasi. Sebelum ditemukan tewas, ia diketahui masih aktif menyuarakan kritik terkait dugaan korupsi serta kebijakan yang dinilai bermasalah di lingkungan perusahaan pelabuhan tersebut.

Keluarga menyebut aktivitas tersebut menjadi bagian dari sikap konsisten Ermanto yang sejak lama dikenal vokal menyuarakan aspirasi pekerja dan menyoroti berbagai kebijakan di sektor pelabuhan.

Semasa bekerja, Ermanto memiliki peran penting di perusahaan. Ia pernah menjabat sebagai Manager Human Resources Development (HRD) di JICT dan juga aktif sebagai Ketua Persatuan Pensiunan JICT. Selain itu, ia dikenal sebagai sosok yang sering menyampaikan kritik terhadap kebijakan perusahaan yang dianggap tidak sesuai prosedur.

Baca Juga: Pensiunan Pekerja Pelabuhan Tewas di Rumah Bekasi, Polisi Selidiki

Vokal Mengkritik Kebijakan dan Dugaan Korupsi JICT

Kakak kandung Ermanto, Dalsaf Usman, mengatakan adiknya memiliki karakter yang tegas dalam menyuarakan aspirasi pekerja. Sikap tersebut bahkan sempat membuatnya mengalami pemecatan saat masih bekerja di JICT, anak perusahaan Pelindo.

Menurut Dalsaf, Ermanto pernah dua kali diberhentikan dari perusahaan karena dinilai terlalu vokal menyuarakan kritik terhadap kebijakan yang dianggap tidak sesuai prosedur. Namun keputusan tersebut akhirnya dibatalkan oleh Menteri Perhubungan saat itu.

Dalsaf menjelaskan bahwa sejak masih aktif bekerja hingga masa pensiun, Ermanto tetap konsisten menyampaikan pandangannya mengenai berbagai persoalan di lingkungan perusahaan pelabuhan.

Ia menambahkan bahwa keluarga sebenarnya sempat menyarankan agar Ermanto tidak terlalu aktif dalam menyuarakan kritik. Meski begitu, Ermanto tetap memilih untuk melanjutkan aktivitas tersebut karena merasa perlu menyampaikan apa yang ia yakini benar.

Aktif Menyampaikan Pandangan Melalui Podcast

Setelah pensiun dari JICT sekitar sembilan tahun lalu, aktivitas Ermanto dalam menyampaikan pandangan tidak berhenti. Ia justru semakin aktif mengikuti berbagai diskusi publik, termasuk melalui podcast yang membahas isu pengelolaan pelabuhan.

Baca Juga: Dokter Richard Lee Ditahan Polda Metro Jaya, Polisi Ungkap Alasan

Putra Ermanto, Fiandy A Putra (33), mengatakan ayahnya cukup antusias ketika mendapat kesempatan berbicara dalam forum diskusi atau program podcast.

Menurut Fiandy, aktivitas tersebut dilakukan sebagai bagian dari kepedulian ayahnya terhadap kondisi para pekerja di lapangan. Ia menyebut Ermanto berusaha menyampaikan berbagai persoalan yang menurutnya perlu diketahui publik.

Dalam beberapa kesempatan, Ermanto juga menyinggung persoalan perpanjangan kontrak kerja sama JICT dengan perusahaan asal Hong Kong, Hutchison Holdings (HPH).

Fiandy menyadari bahwa aktivitas yang dilakukan ayahnya memiliki risiko, terutama karena menyangkut kepentingan banyak pihak. Meski demikian, ia menilai langkah tersebut merupakan bentuk upaya untuk menyuarakan kepentingan pekerja yang selama ini dianggap menghadapi berbagai kesulitan.

Sebelum ditemukan meninggal dunia, Ermanto juga sempat tampil sebagai narasumber dalam program diskusi di kanal YouTube Forum Keadilan TV melalui program bertajuk “Madilog”. Dalam diskusi tersebut, ia kembali menyampaikan pandangannya terkait pengelolaan JICT dan kerja sama dengan Hutchison Holdings.

Berita Rekomendasi: Menkomdigi Sidak Kantor Meta Jakarta, Soroti Judi Online

Ermanto Usman dikenal sebagai pensiunan JICT yang tetap aktif menyampaikan kritik terhadap berbagai isu di sektor pelabuhan, termasuk dugaan korupsi dan kebijakan perusahaan. Aktivitas tersebut masih ia lakukan melalui berbagai forum diskusi hingga sebelum ia ditemukan meninggal dunia di rumahnya di Bekasi.