Program Revitalisasi Satuan Pendidikan (RAPID) diam-diam membawa dampak besar bagi masyarakat. Tak hanya memperbaiki sekolah, program ini juga membuka ratusan ribu lapangan kerja baru di berbagai daerah. Efeknya terasa langsung, terutama bagi warga yang sebelumnya menganggur.

Langkah ini disebut menjadi salah satu strategi pemerintah yang tidak hanya fokus pada infrastruktur pendidikan, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi lokal secara signifikan.

Dalam pelaksanaannya, RAPID ternyata mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang tidak kecil. Dampaknya bahkan meluas hingga ke pelaku usaha kecil di sekitar proyek.

Baca Juga: Strategi Besar Prabowo Ubah Pendidikan RI

RAPID Serap 238 Ribu Pekerja Lokal

Program RAPID telah menyerap sebanyak 238.131 tenaga kerja lokal di seluruh Indonesia. Para pekerja ini terlibat dalam proyek perbaikan sekolah yang dilakukan secara swakelola oleh masing-masing satuan pendidikan.

Kepala Staf Kepresidenan, Muhammad Qodari, mengungkapkan bahwa tenaga kerja yang terlibat berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari insinyur, pengawas proyek, hingga pekerja bangunan dan tenaga pendukung lainnya.

Menariknya, setiap proyek renovasi sekolah rata-rata melibatkan sekitar 22 pekerja dari masyarakat setempat. Model swakelola ini membuat sekolah dan orang tua murid ikut berperan langsung dalam proses pembangunan.

Langkah ini melanjutkan pendekatan pembangunan berbasis komunitas yang sebelumnya juga ditekankan dalam program [pemerataan pendidikan di Indonesia].

Salah satu contoh nyata datang dari Karawang. Seorang buruh bangunan bernama Saiful Anam yang sempat menganggur selama tujuh bulan, akhirnya kembali mendapatkan penghasilan setelah terlibat dalam proyek revitalisasi di SDN Karawang Kulon 3.

UMKM Ikut Terdongkrak

Tidak hanya tenaga kerja konstruksi, program RAPID juga memberikan efek domino pada sektor ekonomi lainnya. Tercatat sekitar 58.000 pelaku UMKM ikut terdampak positif dari aktivitas proyek ini.

Baca Juga: WFH ASN Usai Lebaran 2026, Ini Prediksi Dampaknya untuk

Para pelaku usaha yang terlibat mencakup penyedia bahan bangunan lokal, warung makan, hingga penyedia jasa logistik. Kehadiran pekerja proyek membuat kebutuhan konsumsi meningkat, sehingga pendapatan pedagang kecil ikut naik.

Bahkan, sektor transportasi dan penyewaan alat juga ikut merasakan dampaknya. Aktivitas ekonomi di sekitar sekolah yang direnovasi menjadi lebih hidup dibanding sebelumnya.

Apa artinya bagi masyarakat? Program ini bukan sekadar pembangunan fisik sekolah, tetapi juga menjadi sumber penghasilan baru yang langsung dirasakan warga lokal tanpa harus menunggu efek jangka panjang.

Langkah ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong [penguatan UMKM di Indonesia] sebagai tulang punggung ekonomi nasional.

Progres Pembangunan Hampir Tuntas

Hingga 11 Maret 2026, sebanyak 16.062 sekolah telah menyelesaikan pembangunan fisik dari total target 16.167 satuan pendidikan yang direncanakan.

Pemerintah memastikan sisa proyek yang masih berjalan akan segera dituntaskan dalam waktu dekat. Ini menjadi sinyal bahwa program RAPID berjalan sesuai target dan menunjukkan hasil yang nyata.

Lebih menarik lagi, pada tahun 2026 program ini akan diperluas dengan target sekitar 71 ribu sekolah. Artinya, potensi penyerapan tenaga kerja dan peningkatan ekonomi daerah diprediksi akan jauh lebih besar.

Kenapa Program Ini Jadi Sorotan?

RAPID menjadi menarik karena dampaknya yang langsung terasa. Tidak hanya memperbaiki fasilitas pendidikan, tetapi juga:

  • Membuka lapangan kerja cepat
  • Menghidupkan ekonomi lokal
  • Mendorong keterlibatan masyarakat

Pendekatan swakelola menjadi kunci utama keberhasilan program ini. Dengan melibatkan masyarakat secara langsung, manfaatnya tidak hanya berhenti di pembangunan fisik, tetapi juga pada kesejahteraan warga.

Rekomendasi: Inggris Punya Strategi Baru di Selat Hormuz

Program RAPID membuktikan bahwa pembangunan pendidikan bisa berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat. Dengan ratusan ribu tenaga kerja terserap dan puluhan ribu UMKM terdampak, program ini menjadi salah satu langkah strategis yang patut diperhatikan.

Ke depan, ekspansi program ke puluhan ribu sekolah lainnya berpotensi membawa dampak yang lebih luas lagi bagi ekonomi daerah di seluruh Indonesia.